Koalisi Arab Pecah: Saudi Serang Pasokan Senjata UEA di Yaman.
Arab Saudi Serang Pengiriman Senjata UEA!--
KORANRADAR.ID – Dunia berguncang! Situasi di Yaman mendadak berubah menjadi neraka setelah pemerintah resmi secara mengejutkan mengumumkan Status Darurat Nasional selama 90 hari penuh. Langkah ekstrem ini diambil menyusul pengkhianatan berdarah dan perebutan wilayah yang dilakukan oleh kelompok separatis di wilayah Selatan.
Presiden Dewan Kepemimpinan Yaman, Rashad al-Alimi, secara resmi memutus hubungan militer dengan Uni Emirat Arab (UEA) dalam sebuah pengumuman yang menggetarkan kawasan Timur Tengah pada Selasa (30/12/2025).
Blokade Total 72 Jam: Jalur Udara, Laut, dan Darat Mati Total!
Tidak main-main, Alimi langsung mengeluarkan dekret "besi" yang memerintahkan blokade total selama 72 jam. Seluruh akses masuk dan keluar Yaman kini terkunci rapat, menciptakan situasi mencekam yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Perjanjian Pertahanan Bersama dengan Uni Emirat Arab dengan ini DIBATALKAN!" tegas Alimi dalam pernyataan resmi yang dilansir dari AFP.
BACA JUGA:Istana Rahasia Putin Diserbu Drone, Ukraina Sebut Kebohongan Besar.
BACA JUGA:MOSKOW BERDARAH! Jenderal Kepercayaan Putin Tewas Mengenaskan: Bom Mobil Meledak Dahsyat, Rusia Terguncang
Sekutu Jadi Musuh: Arab Saudi Serang Pengiriman Senjata UEA!
Retaknya persaudaraan negara-negara kaya minyak ini mencapai titik didih. Koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan telah melancarkan serangan udara brutal terhadap pengiriman senjata dari UEA yang diduga kuat ditujukan untuk menyokong pemberontakan kelompok separatis Southern Transitional Council (STC).
STC, yang didukung penuh oleh Abu Dhabi, kini telah mencaplok wilayah-wilayah "basah":
Provinsi Hadramawt: Wilayah kaya sumber daya alam yang kini jatuh ke tangan separatis.
Provinsi Mahrah: Wilayah strategis yang disapu bersih dalam operasi militer kilat bulan ini.
Ancaman Perang Saudara Total: "Serahkan atau Hancur!"
Dalam pidato televisi yang berapi-api, Alimi memberikan ultimatum keras agar pasukan STC segera angkat kaki. Ia melabeli gerakan tersebut sebagai "Pemberontakan Haram" yang mengancam eksistensi negara.
Kini, Yaman berada di ambang kehancuran total. Perang segitiga antara Pemerintah yang didukung Saudi, separatis yang didukung UEA, dan kelompok Houthi yang disokong Iran, membuat "Negeri Seribu Wali" ini terancam terhapus dari peta dalam bentuk yang utuh.
Akankah perang besar ini memicu kiamat ekonomi di kawasan Teluk? Dunia kini menahan napas!