Perkuat Program Maggot untuk Kurangi Sampah dan Emisi

MAGOT: Kadin DLH Prabumulih Mulyadi Musa terkait budidaya magot di Prabumulih.--

PRABUMULIH, KORANRADAR.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Prabumulih mendukung pengembangan pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot, sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Program tersebut merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup bersama United Nations Project  Sucofindo, yang menyasar 10 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, termasuk Kota Prabumulih.

Perwakilan program dari Sucofindo menjelaskan, pada tahun 2026 terdapat 10 desa dan kelurahan di Kota Prabumulih yang mendapatkan Program Kampung Iklim (Proklim). Salah satu wilayah yang masuk dalam program tersebut adalah Kelurahan Muara Dua.

“Kelurahan Muara Dua didaftarkan dalam Program Kampung Iklim karena memiliki berbagai kegiatan yang mendukung pelestarian lingkungan. Salah satunya aktivitas Komunitas Prabumanggot yang fokus pada pengolahan sampah organik menggunakan maggot," ujarnya belum lama ini.

Menurutnya, Prabumanggot dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan melalui pengelolaan sampah organik yang diolah menjadi pakan maggot. Kegiatan tersebut menjadi contoh nyata upaya pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Program Proklim sendiri bertujuan mendorong masyarakat melakukan berbagai kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, termasuk pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

“Intinya bagaimana membuat lingkungan menjadi lebih baik dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu caranya melalui pengolahan sampah organik agar lebih bermanfaat," katanya.

Meski program pendampingan berlangsung sekitar satu tahun, pihak pelaksana berharap kegiatan pengolahan maggot yang telah berjalan dapat terus berkelanjutan setelah program berakhir.

“Kami berharap apa yang sudah diinisiasi kelompok maggot ini dapat terus berkembang. Apalagi sudah ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk melalui program CSR," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Prabumanggot, Triyatno, mengatakan komunitas yang dipimpinnya memiliki visi bersinergi dengan pemerintah dalam mengurangi volume sampah, khususnya sampah organik yang mendominasi lebih dari 50 persen total sampah yang dihasilkan masyarakat.

“Kami lebih fokus pada pengolahan sampah organik karena berdasarkan data, mayoritas sampah yang ada di setiap wilayah merupakan sampah organik. Ini yang menjadi dasar kami mengembangkan pengolahan sampah berbasis maggot," ujarnya.

Kepala DLH Kota Prabumulih Mulyadi Musa, menegaskan pemerintah kota mendukung penuh pengembangan budidaya maggot yang dilakukan Prabumanggot, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran hasil produksi.

“Dari hulu hingga hilir kami siap mendukung. Untuk bahan baku, kami akan memanfaatkan sumber-sumber sampah organik dari fasilitas pemerintah, seperti rumah sakit dan sampah rumah tangga," ujarnya.

Mulyadi berharap budidaya maggot tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan sampah, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar melalui berbagai inovasi produk. (and)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan