Transaksi Kripto Drop,CEO Tokocrypto, Investor Sedang Atur Napas!
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana--
KORANRADAR.ID– Penurunan aktivitas transaksi kripto di Indonesia dinilai sebagai dampak langsung dari tekanan global yang membayangi pasar aset berisiko. Chief Executive Officer (CEO) Tokocrypto, Calvin Kizana, menyebut fenomena ini dipicu oleh sikap hati-hati investor menghadapi ketidakpastian makroekonomi.
“Perlambatan transaksi pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global. Investor cenderung defensif akibat volatilitas tinggi, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga The Fed,” ujar Calvin dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (11/5).
Bukan Kehilangan Minat, Tapi Geser Strategi
Meski volume transaksi menurun, Calvin menegaskan minat investor terhadap kripto tidak surut. Terjadi pergeseran strategi di mana pelaku pasar mulai beralih dari aset spekulatif ke aset yang lebih likuid dan stabil seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), hingga stablecoin.
Senada dengan hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat penurunan ini sebagai proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin 2024.
"Ini adalah high base effect, bukan pelemahan fundamental. Market cap kripto global memang terkoreksi sekitar 45 persen dari titik tertinggi (ATH) USD 4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi USD 2,3 triliun pada Maret 2026," ungkap Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas IAKD OJK.
BACA JUGA:IHSG Goyang, Bahlil Batalkan Kenaikan Pajak Tambang
BACA JUGA:Bitcoin Gagal Tembus 80 Ribu Dolar,Pasar Kripto Masih Rentan Koreksi
Data Transaksi Kripto Indonesia (Maret 2026)
Berdasarkan data OJK, berikut potret industri kripto domestik:
Total Transaksi: Rp28,04 triliun (Turun 4,7% secara bulanan).
Rincian: Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif.
Total Transaksi (Jan–Mar 2026): Mencapai Rp75,83 triliun.
Jumlah Investor: Mencapai 21,37 juta akun, tetap tumbuh tipis di tengah fase konsolidasi.
Prospek Kuartal II: Bitcoin Tembus USD 80.000
Calvin optimis perdagangan akan membaik secara bertahap pada Kuartal II-2026, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis USD 80.000 pada awal Mei.
"Bitcoin adalah barometer utama. Selama BTC bertahan di atas kisaran USD 78.000–80.000, kepercayaan investor akan pulih," jelasnya. Namun, ia mencatat bahwa pemulihan tetap bergantung pada faktor eksternal seperti inflasi dan kebijakan moneter global.
Pajak Kompetitif dan Perlindungan Investor
Tokocrypto juga menyoroti pentingnya kebijakan pajak yang lebih kompetitif. Calvin menilai penyesuaian pajak dapat menarik kembali aktivitas perdagangan ke exchange resmi dalam negeri.
Di sisi lain, OJK terus memperketat pengawasan melalui standar:
KYC & KYT (Know Your Customer & Transaction).
CDD & EDD (Customer Due Diligence).
Sistem Whitelist: Membatasi jenis aset yang boleh diperdagangkan untuk meminimalkan risiko.
Pesan untuk Investor:
Calvin mengimbau investor ritel untuk tetap disiplin. "Fokuslah pada pengelolaan risiko, bukan sekadar mengejar keuntungan cepat. Hindari keputusan emosional dan selalu gunakan platform resmi yang diawasi regulator," tutupnya. (ant)