Basanak jadi Motor Perubahan
Implementasi Program Basakan menyasar kelompok rentan, yakni balita stunting dan wasting serta ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK). Bentuk intervensi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) dalam bentuk susu, yang didistribusikan melal--
Angka Gangguan Pertumbuhan Anak di Muba Terus Menurun
UPAYA Pemerintah Kabupaten Muba dalam menekan angka ganguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis (stunting), menunjukkan hasil signifikan. Melalui Program Bantuan Sayang Anak (Basanak), tren penurunan prevalensi stunting terus bergerak positif dalam beberapa tahun terakhir.
Program yang masuk dalam 22 program unggulan di masa kepemimpinan Bupati Muba HM Toha Tohet SH bersama Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen ini, menjadi salah satu instrumen utama intervensi gizi di Bumi Serasan Sekate. Program Basanak dijalankan secara kolaboratif oleh berbagai perangkat daerah dengan Dinas Kesehatan sebagai leading sector.
Implementasinya menyasar kelompok rentan, yakni balita stunting dan wasting serta ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK). Bentuk intervensi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) dalam bentuk susu, yang didistribusikan melalui seluruh puskesmas di Muba dengan melibatkan tenaga ahli gizi dan kader PKK.
Dalam skema program, setiap balita menerima 16 kotak susu selama dua bulan, sementara ibu hamil memperoleh 60 sachet susu dalam periode yang sama. Keberhasilan program diukur melalui peningkatan berat badan dan tinggi badan sasaran, dengan evaluasi rutin mingguan untuk balita dan bulanan bagi ibu hamil.
Sepanjang 2025, sebanyak 277 balita stunting dan wasting serta 302 ibu hamil KEK menjadi target intervensi. Hingga akhir tahun, realisasi penerima mencapai 259 balita dan 197 ibu hamil, dengan dukungan anggaran APBD. Untuk 2026, jumlah sasaran tetap dipertahankan dengan alokasi anggaran dari APBD Kabupaten Musi Banyuasin.
Dampak program ini terlihat dari penurunan angka stunting yang konsisten. Berdasarkan data e-PPGBM yang diambil dari aplikasi milik Kementrian Kesehatan dan telah divalidasi oleh Dinas Kesehatan, jumlah balita stunting di Muba tercatat sebanyak 781 anak (1,56 persen) pada 2022, turun menjadi 456 anak (1,01 persen) pada 2023, kemudian 407 anak (0,76 persen) pada 2024, dan kembali menurun menjadi 310 anak (0,63 persen) pada 2025.
Bupati Muba HM Toha Tohet SH mengatakan, keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting.
“Program Basanak menjadi salah satu langkah konkret pemerintah daerah dalam memastikan anak-anak Muba mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dini. Ini bukan hanya soal menurunkan angka, tetapi bagaimana kita menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujar Toha.
Wakil Bupati Muba Kyai Abdur Rohman Husen menambahkan, keberhasilan program ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, khususnya kader di tingkat desa.
“Peran kader, tenaga kesehatan, serta ibu-ibu PKK sangat penting dalam memastikan program ini berjalan optimal di lapangan. Mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ujarnya.
Penguatan program Basanak juga ditopang oleh intervensi dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Keluarga. Program ini mendorong pemanfaatan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui pengembangan Desa B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman).
Sebanyak 19 kelompok Desa B2SA menjadi sasaran, terdiri dari empat desa tahap penumbuhan dan 15 desa tahap pengembangan. Total penerima manfaat mencapai 1.325 orang, yang terdiri dari anak-anak usia dini hingga ibu hamil dan menyusui.
Intervensi dilakukan melalui penyediaan makanan bergizi sebanyak 36 kali makan per penerima, dengan pendekatan edukasi konsumsi pangan sehat berbasis potensi lokal. (ace/adv)