Menilik Prospek Ekonomi Sumatera Selatan Tahun 2026
Aldi P. Sembiring - Ekonom Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan--
KORANRADAR.ID Pergantian tahun selalu membawa dua hal: harapan dan kehati-hatian. Harapan bahwa keadaan akan membaik dan kehati-hatian agar tidak terlalu cepat merasa aman. Dalam suasana seperti ini, kinerja ekonomi Sumatera Selatan sepanjang 2025 layak menjadi bahan renungan, sekaligus pijakan untuk menilai apakah momentum tersebut cukup kuat untuk berlanjut hingga 2026.
Dalam beberapa hari lagi, kita akan meninggalkan tahun 2025. Tahun yang tidak mudah bagi perekonomian, baik global maupun domestik, Ketidakpastian masih tinggi, tekanan harga sempat menguat, dan permintaan dunia belum sepenuhnya pulih. Namun di tengah situasi tersebut, Sumatera Selatan mampu menjaga performa ekonominya dengan cukup solid.
Pada triwulan III 2025, ekonomi Sumatera Selatan mampu tumbuh hingga 5,20% (yoy). Capaian tersebut menempatkan Sumatera Selatan sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Regional Sumatera yang tercatat sebesar 4,90% (yoy). Kinerja perekonomian Sumatera Selatan tersebut juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04% (yoy).
Inflasi Sumatera Selatan juga mampu terkendali dengan capaian tumbuh sebesar 2,91% (yoy) atau berada pada rentang target sasaran inflasi nasional. Artinya, roda ekonomi berputar cukup cepat tanpa dibarengi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat.
Dalam istilah sederhana, kondisi ini mencerminkan keseimbangan yang baik: produksi meningkat, kebutuhan masyarakat terpenuhi, dan tekanan harga dapat diredam. Lalu, yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah momentum tersebut dapat berkelanjutan hingga tahun 2026?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sektor-sektor utama yang menjadi tulang punggung ekonomi Sumatera Selatan. Sektor-sektor tersebut meliputi Pertanian, Kehutanan, Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; Konstruksi; serta Perdagangan Besar dan Eceran. Gabungan 5 (lima) sektor tersebut telah mencakup 81,67% dari total ekonomi di Sumatera Selatan. Oleh karena itu, pergerakan sektor-sektor inilah yang akan sangat menentukan arah ekonomi ke depan.
BACA JUGA:Ketua Apindo Sumsel Sumarjono Saragih Terpilih Menjadi Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan
BACA JUGA:Sumarjono Saragih Ketua APINDO Sumsel Sebut Dialog Buruh dan Pengusaha Kunci Perlindungan Pekerja
BACA JUGA:Sumarjono Saragih Ajak 50 juta Masyarakat Sawit Indonesia Doakan Agar Timnas Menang Atas China
Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan diprakirakan memiliki peluang tumbuh lebih baik pada 2026. Kinerja tersebut didorong penambahan Luas Baku Sawah (LBS) seiring realisasi program Cetak Sawah dan Optimalisasi Lahan (OPLAH) yang dapat efektif melakukan produksi pada tahun 2026. Namun demikian, potensi curah hujan menengah hingga tinggi pada Januari – Februari 2026 (periode puncak panen) di wilayah Sumatera Selatan perlu untuk diwaspadai karena berpotensi menganggu proses produksi pertanian.
Selanjutnya, Sektor Pertambangan dan Penggalian diprakirakan dapat tumbuh stabil pada tahun 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor Coal Handling Facility dan Train Loading Station 6 & 7 di Tanjung Enim-Kramasan milik PT Bukit Asam Tbk diprakirakan dapat beroperasional di triwulan II 2026.
Perbaikan infrastruktur tersebut diprakirakan mampu memperkuat infrastruktur logistik batu bara dan mendukung efisiensi rantai pasok batu bara di Sumatera Selatan, sehingga mampu membantu peningkatan kapasitas produksi.
Di sisi lain, tantangan permintaan eksternal batu bara pada tahun 2026 diprakirakan akan semakin menguat. China dan India sebagai importir utama batu bara Sumatera Selatan semakin insentif melakukan transisi ke ekonomi hijau dan mengandalkan produsen batu bara domestik.
Kemudian, kinerja Sektor Industri Pengolahan juga diprakirakan dapat terjaga dengan baik pada tahun 2026. Tetap stabilnya kinjera Sektor Industri Pengolahan didorong oleh faktor perbaikan produksi pulp and paper di Sumatera Selatan seiring dengan penyelesaian pembangunan pabrik OKI Pulp and Paper II yang diprakiran dapat rampung pada akhir semester I 2026.
Dengan begitu, akan terdapat peningkatan kapasitas produksi yang sangat signifikan seiring dengan telah dimulainya operasional pabrik tersebut pada triwulan III 2026. Kinerja Sektor Industri Pengolahan juga sejalan dengan Sektor Pertambangan dan Penggalian seiring dengan peningkatan target lifting minyak dan gas pada tahun 2026.
Pada Sektor Konstruksi, kinerja sektoral pada tahun 2026 diprakirakan mampu tumbuh lebih baik. Kondisi tersebut ditengarai oleh faktor tetap berlanjutnya penyelesaian Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di wilayah Sumatera Selatan, khususnya pada ruas Palembang – Betung dan Betung – Tempino – Jambi.
Penyelesaian JTTS tersebut juga memberikan andil positif untuk percepatan konektivitas antarwilayah di sekitar Sumatera Selatan. Kemudian, dorongan kinerja Sektor Konstruksi juga didorong oleh perluasan kerja sama, sasaran, dan program untuk perumahan bersubsidi pada tahun 2026.
Hal tersebut sejalan dengan kinerja penyaluran perumahan bersubsidi yang terus didorong oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan dukungan kebijakan keringanan perizinan (PBG dan BPHTPB Rp0). Selanjutnya, dukungan kebijakan juga berlaku pada rumah tapak dan susun baru siap huni dengan harga maksimal Rp5 miliar melalui perpanjangan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) sebesar 100% (porsi ditanggung Rp2 miliar).
Terakhir, pada Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, kinerja pada tahun 2026 diprakirakan mampu tumbuh kuat. Hal tersebut didorong oleh faktor prakiraan tetap tingginya kenaikan UMR pada tahun 2026, dorongan kenaikan NTP seiring perluasan lahan pertanian, dan perpanjangan PPh final bagi UMKM dengan tarif 0,5%.
Namun demikian, risiko kinerja Sektor Perdagangan Besar dan Eceran pada tahun 2026 akan bergantung kepada penerapan insentif kepada pelaku usaha otomotif. Hal tersebut disebabkan adanya potensi pencabutan insentif otomotif pada tahun 2026, khususnya pada segmen mobil listrik dan hybrid yang akan menahan kinerja Sektor Perdagangan Besar dan Eceran pada tahun 2026.
Dari sisi inflasi, prospek inflasi Sumatera Selatan pada tahun 2026 diprakirakan dapat terjaga dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Hal tersebut seiring dengan peningkatan target Gabah Kering Giling (GKG) Sumatera Selatan dari 3,5 juta ton pada 2025 menjadi 4 juta ton pada tahun 2026 dengan dukungan berbagai program swasembada pangan.
Selain itu, dukungan terhadap terjaganya inflasi pada yang tingkat stabil didukung oleh Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang terus diperluas jangkauannya, dimulai dari sekolah, lingkungan desa, panti sosial, dan akan terus bertambah pada tahun 2026. Dengan semua ikhtiar tersebut, pasokan pangan di Sumatera Selatan diprakirakan dapat terjaga dengan baik pada tahun 2026, sehingga dapat menjaga tingkat harga pada level yang stabil.
Secara keseluruhan, terdapat potensi besar dorongan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada tahun 2026 dengan tingkat inflasi yang terjaga pada level yang stabil. Dengan kondisi tersebut, momentum yang telah terjadi sepanjang tahun 2025 kemungkinan dapat berlanjut hingga 2026.
Namun demikian, potensi berlanjutnya momentum tersebut tentunya datang dengan catatan yang perlu untuk terus dikawal secara intensif. Risiko yang menjadi penghambat perekonomian atau mendorong laju inflasi perlu untuk diantisipasi sedini mungkin melalui koordinasi dan sinergi lintas pemangku kepentingan.
Oleh: Aldi P. Sembiring - Ekonom Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan