Merawat Cita Rasa Palembang, Ais Bangun Pempek Honey dengan Prinsip Kejujuran

Ais, pemilik usaha Pempek Honey yang berlokasi di Jakabaring.-Dok/pempekhoney-

PALEMBANG,KORANRADAR.ID– Pempek telah lama menjadi identitas kuliner Palembang yang dikenal hingga mancanegara. Di balik popularitasnya, tersimpan kisah ketekunan para pelaku usaha yang merawat cita rasa sekaligus menjaga kepercayaan konsumen. Salah satunya datang dari Helis Solehah, atau akrab disapa Ais, pemilik usaha Pempek Honey yang berlokasi di kawasan Jakabaring.

Perjalanan Ais membangun usaha tidak dimulai dari dapur pempek, melainkan dari bisnis ikan giling pada 2010. Berbekal garasi rumah, ia bersama sang suami mengolah ikan tenggiri untuk memenuhi kebutuhan bahan baku para produsen pempek rumahan. Usaha ini hadir sebagai solusi atas persoalan limbah dan proses pengolahan ikan mentah yang kerap merepotkan pelaku UMKM.

Selama lima tahun pertama, usaha ikan giling dijalankan dengan segala keterbatasan. Proses produksi dilakukan secara manual, bahkan saat Ais tengah mengandung anak pertamanya. Seiring meningkatnya permintaan, jumlah karyawan pun bertambah, meski harus berdampingan dengan aroma amis dan kondisi kerja yang masih menyatu dengan lingkungan rumah.

Pada 2015, setelah fondasi usaha ikan giling dinilai cukup kuat, Ais dan suami memutuskan melangkah lebih jauh dengan memproduksi pempek sendiri melalui merek Pempek Honey. Keputusan tersebut dilandasi pemahaman terhadap kualitas bahan baku serta kekhawatiran sebagai orang tua akan keamanan jajanan anak. Dari dapur rumah, Ais mulai meracik pempek tanpa Monosodium Glutamat (MSG), menggunakan ikan tenggiri murni yang diolah secara higienis.

BACA JUGA:Pempek Minah: Dari Kampung Kreatif hingga Kiriman Frozen ke Seluruh Indonesia

BACA JUGA:Pempek Cek Molek Buktikan Kualitas, Kantongi Sertifikasi HACCP Sejak 2023

Prinsip kejujuran dan transparansi menjadi nilai utama dalam menjalankan bisnis. Pempek Honey secara terbuka menjelaskan kualitas ikan yang digunakan, termasuk perbedaan karakter ikan berdasarkan daerah tangkapan. Alih-alih merugikan, keterbukaan ini justru memperkuat kepercayaan konsumen dan membangun loyalitas di tengah ketatnya persaingan usaha pempek.

Konsistensi dan kesabaran menjadi kunci bertahan. Lima tahun pertama difokuskan sepenuhnya pada penguatan usaha ikan giling sebagai tulang punggung bisnis. Pengembangan peralatan produksi dilakukan bertahap, dengan mempertimbangkan karakter ikan yang sensitif terhadap panas agar kualitas tetap terjaga.

Saat pasar sedang lesu, Ais menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi langsung pelaku UMKM pempek. Meski harus mengorbankan biaya dan produk sebagai sampel, langkah tersebut perlahan membuka peluang pasar baru.

Memasuki persaingan dengan produsen pempek senior, Pempek Honey menegaskan nilai produk sebagai pempek tanpa MSG dengan bahan baku premium. Prinsip tersebut diperkuat melalui kelengkapan legalitas, mulai dari sertifikasi halal, sertifikat kelayakan pangan, hingga standar produksi yang memungkinkan produk dipasarkan lintas daerah bahkan ke luar negeri.

BACA JUGA:Pempek dan Makjola Bikin Nicky Tirta Terpikat, Bunda Rayya: Buatnya dari Hati

BACA JUGA:Pempek Diva Kirim Pesanan Seluruh Indonesia, Berani Ganti 100 Persen Jika Rusak

Inovasi terus dilakukan tanpa meninggalkan prinsip dasar. Beragam varian unggulan seperti pempek keriting jumbo dan pempek krispi dikembangkan melalui riset berulang, tetap mengedepankan tekstur empuk dan rasa alami yang aman dikonsumsi anak-anak maupun lansia.

Pendekatan kreatif juga dilakukan melalui konten digital, salah satunya memasak pempek di atas perahu ketek dengan latar Jembatan Ampera. Strategi ini tidak hanya memperkuat kedekatan dengan publik, tetapi juga mengangkat citra pempek Palembang secara positif.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan