Sinergi Karantina Sumsel Dan DKPP Dorong Telur Ayam Banyuasin Tembus Pasar Singapura
Caption : Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan (Karantina Sumsel) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumsel melakukan pendampingan intensif bagi peternak telur ayam konsumsi menuju "Go Ekspor" pada Senin (1--
\BANYUASIN, KORANRADAR.ID – Komoditas peternakan Sumatera Selatan bersiap melangkah ke kancah internasional. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan (Karantina Sumsel) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumsel melakukan pendampingan intensif bagi peternak telur ayam konsumsi menuju "Go Ekspor" pada Senin (19/1).
Langkah strategis ini bertujuan memastikan produk unggulan Sumsel memenuhi standar global, sehingga mampu bersaing di pasar mancanegara, mengikuti jejak komoditas andalan lain seperti kelapa, kopi, dan sawit.
Kepala Balai Karantina Sumsel, Sri Endah, bersama Pejabat Otoritas Veteriner (POV) Sumsel, Jafrizal, meninjau langsung operasional PT Banyuasin Mukut Inti (BMI) di Desa Mukut, Kabupaten Banyuasin.
PT BMI merupakan salah satu pilar utama produksi telur di Sumsel dengan skala yang fantastis:
Populasi: 400.000 ekor ayam petelur.
Produksi: Mencapai 17 ton telur per hari.
Standar: Telah mengantongi NKV Level 1 dan sertifikat bebas Avian Influenza serta Salmonella.
BACA JUGA:Pemprov Sumsel dan Badan Karantina Indonesia Perkuat Kolaborasi
BACA JUGA:Karantina-Pemprov 'Go-Export': Akselerasi Digital Sumsel Menuju Raja Ekspor Dunia!
"Dilihat dari kelengkapan dokumen dan penerapan biosekuriti, PT BMI sudah sangat siap untuk ekspor. Langkah selanjutnya adalah menyesuaikan teknis spesifik sesuai permintaan negara tujuan," tegas Sri Endah.
Potensi besar ini tidak disia-siakan. Pemilik PT BMI, Niko, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah berada dalam tahap negosiasi intensif terkait logistik pengiriman. Target utamanya adalah pasar Singapura, yang dikenal memiliki standar keamanan pangan yang sangat ketat.
Jafrizal menambahkan bahwa status NKV Level 1 yang dimiliki PT BMI menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap persyaratan teknis. "Ini membuktikan produk kita sangat baik dan memenuhi semua standar keamanan pangan asal hewan," ujarnya.
Kabupaten Banyuasin, khususnya Kecamatan Talang Kelapa dan Pulau Rimau, kini memantapkan posisi sebagai sentra produksi telur ayam terbesar di Indonesia. Dengan lebih dari 100 peternakan yang terdata, sektor ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat lokal.
Sinergi antara Karantina Sumsel dan DKPP diharapkan mampu mengawal kualitas dari hulu hingga hilir. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci agar telur Sumsel tidak hanya mencukupi kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi kebanggaan Indonesia di pasar global. (sep)