Menperin Perjuangkan Insentif Otomotif Lanjut 2026
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita--
KORANRADAR.ID - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pihaknya akan berupaya agar industri otomotif nasional tetap menerima insentif pada tahun 2026. Upaya ini didasari oleh pertimbangan besar pada dampak berantai (multiplier effect) yang dihasilkan oleh sektor tersebut.
"Sektor ini merupakan sektor yang sangat penting, terlalu penting untuk kita abaikan. Forward dan backward linkage yang luar biasa besar, penyerapan tenaga kerjanya juga luar biasa besar, nilai tambah untuk ekonominya juga luar biasa besar," kata Menperin Agus di Jakarta, Selasa (2/12).
Oleh karena itu, Kemenperin akan tetap mengusulkan insentif atau stimulus kepada pemerintah untuk menopang sektor otomotif.
Menperin menjelaskan bahwa stimulus ini dibutuhkan karena industri otomotif nasional saat ini tengah mengalami kontraksi atau penurunan penjualan.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren penurunan pada periode Januari-Oktober 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya:
BACA JUGA:Palembang Terbaik! Terima Apresiasi Kemendagri Kategori Kemiskinan Terendah
Penjualan Wholesales (Distribusi dari pabrik ke dealer): Hanya tercatat sebanyak 634.844 unit. Angka ini turun 10,6 persen dari 711.064 unit pada tahun lalu.
Penjualan Retail Sales (Penjualan dari dealer ke konsumen): Tercatat sebanyak 660.659 unit. Angka ini turun 9,6 persen dari 731.113 unit pada tahun lalu.
Menurut Menperin, insentif yang tengah disiapkan pihaknya akan mencakup sisi permintaan (demand) maupun sisi persediaan (supply).
"Merupakan tanggung jawab kami. Hal yang salah kalau kami tidak perjuangkan," tegasnya.
Di sisi lain, Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, sebelumnya menyoroti adanya kesenjangan dalam insentif yang saat ini berjalan.
Meskipun penjualan kendaraan listrik (EV) mengalami peningkatan signifikan pada periode Oktober 2024–Januari 2025, sebagian besar kenaikan ini berasal dari kendaraan EV impor (Completely Built Up/CBU).
"Dari total penjualan kendaraan EV tahun 2025 sebesar 69.146 unit, 73 persennya merupakan kendaraan EV impor yang nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja industrinya berada di negara lain," ujar Febri Hendri Antoni Arif dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (30/11).
Ia melanjutkan, segmen kendaraan yang diproduksi di dalam negeri dan memiliki pangsa pasar terbesar justru terus mengalami penurunan penjualan yang signifikan.
"Jadi keliru jika menyatakan industri otomotif sedang dalam kondisi kuat hanya dengan mengandalkan indikator pertumbuhan kendaraan pada segmen tertentu," tambahnya.
Saat ini, insentif yang diberikan untuk mobil listrik berbasis baterai (BEV) berupa pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) nol persen. Insentif ini mulanya bertujuan untuk tes pasar, namun ironisnya, yang paling banyak menikmati adalah kendaraan listrik impor. (ant)