Transformasi Literasi dan Numerasi Melalui Program PELITA

Kepala Sekolah Zakiudin bersama dengan murid SMP IT Al Furqon-Dokumen-

PALEMBANG, KORAN RADAR, ID-Merajut Nawacita Pendidikan Melalui Transformasi Literasi dan Numerasi Integrasi PELITA dengan Pendekatan STAR di SMPIT Al Furqon Palembang 

Upaya transformasi mutu pendidikan melalui literasi dan numerasi merupakan keniscayaan bagi kemajuan bangsa.
 
 Sesungguhnya bangsa yang mengedepankan budaya literasi dan numerasi akan berada di garda terdepan kemajuan peradaban begitu pula sebaliknya bangsa yang abai akan literasi akan tenggelam dalam kebodohan. 
 
Menurut Prof Abdul Mu'ti problem saat ini bukan lagi akan buta aksara, tetapi pada fungsi literasi. Melalui program-program yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto adalah terjemahan konkret dari Nawacita untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan pemerataan peningkatan mutu disetiap jenjang pendidikan diseluruh wilayah Indonesia.
 
 
Fokus pada penguatan Literasi dan Numerasi adalah langkah strategis, mengingat kedua kompetensi dasar ini merupakan fondasi bagi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kunci daya saing global.
 
Nawacita dalam konteks pendidikan nasional harus dimaknai sebagai komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, dan relevan dengan tantangan zaman. Inisiatif dari kementerian untuk mengakselerasi peningkatan mutu di tingkat sekolah dasar dan menengah menunjukkan pemahaman bahwa perubahan harus dimulai dari dasar, yaitu penguasaan kemampuan membaca, memahami, dan berhitung yang kuat.
Dalam hal ini, Kepala Satuan Pendidikan memegang peran krusial sebagai agen perubahan utama di lapangan.  
 
Zakiudin, S.Pd.I.,Gr.,Kepala SMPIT Al Furqon Palembang, telah menunjukkan kepemimpinan transformatif melalui program inovatifnya, PELITA (Penggerak Literasi Al Furqon).
 
Program PELITA bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan sebuah ekosistem yang dirancang untuk menjadikan literasi dan numerasi sebagai budaya produktif sekolah. Melalui Lima pilar program yang dicanangkan, yaitu:
SALAM (Seputar Al Furqon Mengabarkan): Mewadahi ide dan kreativitas guru serta siswa, sekaligus menjadi sarana praktik literasi fungsional. Pojok Baca: Mendekatkan sumber literasi ke ruang kelas, menjadikannya bagian integral dari lingkungan belajar. Furqon Corner/Mading: Mendorong kreativitas dan ekspresi siswa. Pemustaka Terbaik: Memberikan apresiasi dan membangun motivasi untuk berliterasi. Perpustakaan Digital: Memperluas akses dan mewujudkan kolaborasi literasi antara sekolah dan orang tua di rumah.
Ide sederhana yang dituangkan kedalam program kerja tahunan dan dikolaborasikan dengan seluruh stakeholder ini telah menghasilkan bukti transformasi nyata: dimana hasil rapor pendidikan SMPIT Al Furqon Palembang dibidang literasi dan numerasi menyentuh angka 97,78% terjadi peningkatan 15,56% dari hasil rapor tahun sebelumnya. Selain itu dampak nyata adalah produksi karya siswa (e-buletin bulanan) dan terbitnya tiga buku karya guru dan siswa. Terbangunnya Kolaborasi literasi Nasional dengan Nyalanesia. Selain itu transformasi literasi dan numerasi ini telah menghantarkan Bapak Zakiudin, S.Pd.I.,Gr berprestasi hingga tingkat Nasional. Ini adalah bentuk validasi bahwa transformasi mutu pendidikan adalah hasil dari inovasi tingkat sekolah yang terinspirasi dari visi besar negara.
Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan yang diberikan oleh pemerintah kepada seluruh guru di Indonesia, pada puncak Apresiasi GTK Nasional menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar dalam ekosistem pendidikan. Nasihat Bapak Presiden Prabowo Subianto kepada orang tua—bahwa mereka tidak boleh langsung menyalahkan, menuntut, atau memperkarakan guru, karena teguran, nasehat dan marahnya guru kepada murid, karena boleh jadi hal tersebut disebabkan oleh kenakalan murid itu sendiri. Presiden Prabowo Subianto menegaskan untuk membangun kembali kepercayaan dan kemitraan antara sekolah dan keluarga.
Nasihat ini mengandung kearifan mendalam, mutu pendidikan tidak akan tercapai tanpa kolaborasi yang harmonis antara tiga pusat pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru adalah garda terdepan, dan peran mereka harus dihormati serta didukung, bukan dicurigai. Ini adalah fondasi Nawacita dalam membangun karakter bangsa yang beradab dan beretika. Kalimat penutup beliau kepada anak-anak Indonesia "Anak-anakku, Patuhi orang tuamu, hormati gurumu, sayangi teman-temanmu dan Jagalah Bangsamu. Merdeka." adalah ringkasan padat dari pendidikan karakter. Ini adalah tugas semua pihak, termasuk program PELITA di SMPIT Al Furqon, untuk tidak hanya mengajarkan kemampuan kognitif, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi prasyarat bagi tegaknya peradaban dan kelangsungan bangsa.
 
 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan